Imam Syafi' i selain dikenal sebagai faqih ternama, juga pandai bersabar dalam menghadapi cobaan atau musibah yang pahit. Muhammad Amin Al-Jundi menuturkan, ketika anak yang dicintainya meninggal, Imam penulis Kitab Al-Ummi ini berkata, "Ya Allah, jika engkau menurunkan ujian ini, maka Engkau pulalah yang menyelematkan hamba dari cobaan itu. Jika Engkau mengambil sesuatu dari hamba, Engkau masih meninggalkan sesuatu yang lain. Engkau mengambil salah seorang keluarga hamba dan Engkau masih meninggalkan keluarga hamba yang lain. Engkau mengambil salah satu anakku, Engkau masih meninggalkan anak yang lain.""
Kehidupan manusia siapa dan dimanapun sepanjang masa senantias menghadapi musibah, dari yang ringan hingga yang berat. Musibah adalah apa yang menimpa manusia, yang dirasakan tidak menyenangkan. Tidak ada manusia di dunia yang fana ini hidup tanpa musibah atau cobaan yang pahit. Para Nabi hingga Nabi Muhammad sekalipun ditimpa musibah. Sehingga Rasul akhir zaman itu pernah mengalami apa yang disebut 'am al-hazm' atau tahun kesedihan ketika istri dan paman tercinta yang selalu membelanya wafat. Padahal, waktu itu nabi dan para sahabatnya sedang menerima teror dan ancaman jiwa dari kaum Quraisy yang tidak menerima kehadiran dakwah Rasulullah di jazirah Arab.
Tapi percayalah, selain memberi musibah atau cobaan, Allah melimpahkan anugerah atau nikmat yang luas kepada seluruh makhluk-Nya di alam semesta ini. Anugerah dan nikmat dari Allah jauh melampaui musibah yang dialami manusia. Hanya saja, sedikit sekali hamba-hamba-Nya yang mau bersyukur dan bersabar. Allah berfirman dalam Al-Qur'an, artinya, "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan beritakanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan; "Inna lillaahi wa innaa ilahi raaji'un." (QS. Al-Baqarah: 155-156).
M. Quraisy Shihab dalam tafsirnya Al-Misbah memberikan keterangan tentang ayat tersebut sebagai berikut "Ujian atau cobaan yang dihadapi itu pada hakikatnya sedikit. Sehingga betapa pun besarnya, ia sedikit jika dibandingkan dengan imbalan dan ganjaran yang akan diterima. Cobaan itu sedikit karena, betapa pun besarnya cobaan, ia dapat terjadi dalam bentuk yang lebih besar daripada yang telah terjadi. Bukankah ketika mengalami setiap bencana, ucapan yang sering terdengar adalah "Untung hanya begitu..?" Ia sedikit karena cobaan dan ujian yang besar adalah kegagalan menghadapi cobaan, khususnya dalam kehidupan beragama".
Musibah atau cobaan yang pahit seperti kehilangan harta, jiwa, dan sebagainya memang tidak menyenangkan. Adalah wajar manakala manusia pada awal menerima musibah merasa sedih, bahkan ada yang putus asa. Tapi Allah Maha Adil dengan memberikan manusia anugerah kemampuan, termasuk kemampuan untuk bersabar. Manusia yang dianugerahi Allah kemampuan, akan mampu menghadapi setiap ujian. Karena itu, diperlukan kesabaran dalam menghadapinya. Dan janganlah berputus asa, bahkan sebaliknya bersabarlah ketika menghadapi musibah. Segala hal di dunia ini dari Allah dan kepada Dia segalanya dikembalikan. Dunia dengan segala hal yang berada di dalamnya ini fana sifatnya, sedangkan kehidupan yang kekal hanyalah di akhirat.
Manusia beriman diminta sabar ketika menghadapi musibah apapun, baik yang ringan maupun yang berat. Sabar adalah sikap menerima segala macam cobaan dengan tenang dan tabah. Al-Junaid bin Muhammad melukiskan orang yang bersabar layaknya mereka yang meneguk minuman pahit. Tetapi, tidak mengerutkan mukanya dan tidak memperlihatkan bahwa yang diminum itu pahit rasanya. Sedangkan, Dzunnun al-Mishri menggambarkan orang yang sabar seperti orang kaya yang tetap tenang tetapi tetap berusaha ketika tiba-tiba jatuh miskin.
Bersabar memang tidak harus fatalis, tetapi bersikap menerima dan tabah dalam menghadapi musibah yang pahit, sekaligus berikhtiar untuk tetap tenang dan optimis dalam mencari jalan keluarnya. Namun dalam berikhtiar pun harus tetap sabar, selain bersungguh-sungguh, juga jangan memaksakan diri di luar batas kemampuan. Karena hasil akhirnya, kita serahkan menjadi urusan Allah.
Sehebat kemampuan dan ikhtiar manusia selalu ada batasnya. Jangan melampaui garis batas yang kita sendiri tidak tahu, dan hanya Allah Yang Maha Tahu. Mereka yang bersabar dalam menerima musibah tahu dan menerima titik akhir yang bernama qadha dan qodar. Segala hak milik Allah dan kita kembalikan kepada-Nya.




No comments:
Post a Comment